Menghafal Quran Metode Tabarok Bagi Anak²

Hari minggu 11 Februari 2018 kemarin, penulis berkesempatan hadir dalam kajian dengan tema Menghafal Quran Metode Tabarok Bagi Anak di Masjid Kampus UNS Solo.


Pada kajian tersebut, pemateri menyampaikan akan pentingnya interaksi dengan Quran sejak dini. Orang tua musti merencanakan Timeline yg tepat bilamana ingin anak²nya kelak menjadi penghafal alQuran.

Perencanaan yg dilakukan dimulai sejak berada dalam kandungan, dengan memperbanyak doa dan munajat kepada Allah swt Sang Pencipta.

Adalah Tabarok, seorang anak Doktor yg berhasil menghafal alQuran d usia 4,5 tahun. Tabarok mulai menghapal sejak usia 3 tahun. Pada masa-masa awal menghapal, Tabarok belum menghapal Al-Qur’an dengan cara membaca. Bacaan Al-Qur’an hanya diperdengarkan sembari mulai diperkenalkan pada huruf dan harakat Al-Qur’an.

Semua interaksi Tabarok dengan Al-Qur’an ini dicatat oleh sang ibunda. Hafalan dimulai dari surat An-Naba hingga selesai juz 30. Hapalan dimulai dari juz 30 karena ayat-ayatnya yang relatif pendek-pendek dan sederhana. Setiap selesai dari suatu program hapalan, Dr. Kamil (Sang Ayah) memberi Tabarok hadiah. Durasi hapalan di masa-masa awal cukup dengan ½ sampai 1 jam. Durasi 1 jam ini tidak harus dijalankan selama 1 jam penuh, tetapi boleh diselingi dengan bermain. Hanya saja, total jumlah waktu hapalan per hari harus konsisten mencapai minimal 1 jam.

Ketika Tabarok berhasil menyelesaikan juz 30, hadiah besar diberikan kepada Tabarok. Juz 30 berhasil diselesaikan oleh Tabarok dalam 4 bulan. Setelah juz 30 selesai, hapalan dilanjutkan dengan juz 29. Hapalan juz 29 ini sudah dilakukan dengan cara membaca. Ketika selesai juz 29, hadiah kembali diberikan kepada Tabarok. Kedua juz ini menjadi pondasi dasar dari hapalan-hapalan berikutnya yang dimulai secara berurut dari Al-Baqarah hingga akhirnya menyelesaikan 30 juz ketika berusia 4,5 tahun.

Orang tua musti mempersiapkan file murotal yg indah, dan disarankan file terbagi per surat dan dibagi menjadi 7 bagian sesuai dengan Kurikulum Metode Tabarok sebagai berikut ;

Allah SWT berfirman:

قُلْ هُوَ الَّذِيْۤ اَنْشَاَكُمْ وَجَعَلَ لَـكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَ الْاَفْــئِدَةَ ۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ

“Katakanlah, Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani bagi kamu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.”
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 23)

Dalam ayat tersebut, dijelaskan bahwa urutan karunia yg dianugerahkan pada manusia diawali dengan pendengaran, pengelihatan, dan hati nurani. Metode pengenalan dengan alQuran bagi manusia pun terbagi menjadi tiga stase tersebut.

Pada usia antara 3 sampai dengan 7 tahun, seorang anak berada dalam fasa “mendengar” yg pertama. Jangan terlalu memaksa anak untuk mahir membaca quran dengan tulisan arab di usia ini. Di fasa ini, sang anak cukup mendengar dan menirukan apa yg telah didengarnya. Planingkan untuk mendengar murrotal2 yg telah terbagi dalam 7 tahapan pada gambar di atas. Pemateri dalam kajian tersebut menyampaikan bahkan untuk pengenalan huruf hijaiyah cukup dilakukan satu huruf perhari, untuk anak dalam fasa pertama ini.

Pada usia sampai dengan 25 tahun, sang anak memasuki fasa “mendengar” yg kedua. Di tahap ini, sang anak diharapkan telah hafal lafadz Quran seluruhnya, sehingga fasa “mendengar” jilid 2 yg mana sang anak mulai belajar lain2 akan dapat “dibatasi” dengan firman2 Illahi yg telah dihafalnya. Di fasa mendengar yg ke 2 ini, sang anak wajib mendapatkan pelajaran2 dari guru yg berjiwa Qurani, sehingga penelaahan akan firman ~ firman Tuhan yg telah dia hafal dapat dilakukan optimal sampai dengan fasa ini berakhir (25 tahun).

Tahap selanjutnya adalah fasa “Melihat” (range usia antara 25 ~ 40 tahun) dimana pada fasa tersebut sang anak telah tumbuh dewasa. Dengan bekal ayat2 yg telah dihafal dan difahami, Waktunya sang anak untuk menggunakan “Pengelihatan”dan “Membaca” lingkungan disekitarnya, untuk melaksanakan tuntunan2 sesuai dengan firmanNya dalam alQuran yg berjumlah 30 Juz itu.

Setelah melampaui usia 40, sang anak telah dewasa seutuhnya. Aktualisasi Af’idah (Hati) dapat mulai diterapkan di usia ini. Berbekal tuntunan dari Sang Pencipta yg telah “didengar” dan “dibaca”, sang anak yg telah dewasa mulai menggunakan hati dalam bermasyarakat, menjadi panutan bagi keluarga, menjadi tetangga yg kehadirannya menentramkan, telah menjadi sosok dengan bekal firman2 Ilahi yg telah tertanam dalam sanubarinya dalam berkeluarga, bermasyarakat, berorganisasi, dan menjadi hamba sesuai dengan tujuan Tuhan menciptakannya.

Demikian hasil kajian di Masjid Nurul Huda UNS yg dapat kami ukir dalam blog ini. Semoga kita semua dapat berusaha maksimal memahami alQuran, mukjizat Nabi Muhammad, satu2nya wasiat yg diberikan oleh Sang Pencipta bagi ummat sepeninggal kekasihNya (Rasulullah), Manual Book manusia sesuai OEMnya, kumpulan ayat2 abadi yg tak kan musnah, bukti Cinta dari Sang Pencipta bagi hamba2Nya, dan sarana komunikasi yg istimewa antara Sang Pencipta dengan hamba2Nya yg mau berusaha mendekat padaNya.

Salam,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s