​Pengalaman ; Kista, Laparoskopi – Bayi Tabung – IVF

Salam,

12-04-2013 adalah tanggal tak terlupakan bagi kami berdua. Ya, pada hari tersebut saya berikrar untuk menerima nikah dan kawinnya istri saya tercinta. Tepat pada tanggal kelahiran bapak mertua yg kini telah almarhum.

Waktu berlalu. Rutinitas kerja setiap hari tanpa terasa telah menutupi usia pernikahan kami yg telah menginjak 1 tahun. Kala itu kami berada di kota Rembang, Jawa Tengah. Kota bersejarah bagi kami. Kota dimana awal rumah tangga kami mulai dibangun.

Gambar : PLTU Rembang

Melihat tetangga, saudara, rekan kerja yg seketika mendapat amanah sebagai org tua, awalnya tak menggemingkan ketabahan kami untuk senantiasa bersabar dan berusaha medapatkan keturunan. Salah satu penerus estafet pahala yg tak terputus meski ajal telah menjemput. Hingga mertua saya menyarankan, ada baiknya kami mulai konsultasi ke dokter spog.

Dokter spog pertama tempat kami konsultasi adalah Dr Sri Sumarsi, Spog. Seorang dokter kandungan yg lumayan terkenal atau mungkin satu2nya d kota Rembang saat itu. Pada mulanya, kami hanya diberi wejangan tentang aturan main berhubungan suami istri mengikuti jadwal masa subur. Hubungan dilakukan saat telur sudah siap dibuahi, hubungan dilakukan selang – seling di hari ke 11, 13, 15 setelah tanggal haid pertama, dengan tujuan meningkatkan probabilitas bertemunya telur yg siap dibuahi dengan sel sperma yg telah matang. Vitamin penyubur pun kami konsumsi saat itu.

Gambar : Praktek Dr Marsi Rembang

Hari berganti minggu, bulan dan tahun, kami tetap istiqomah menjumpai beliau. Hingga di akhir 2014 saya pindah tugas ke kota Sidoarjo, Jawa Timur. Kami amat bersyukur. Di Sidoarjo, dekat dengan kota asal, dapat bertemu dengan org tua dan saudara.

Konsultasi berlanjut. Kali ini kami konsultasi dengan Dr. Eston Aryawan H., Sp.OG. Salah satu dokter kandungan di RSMK waru, sidoarjo. 

Gambar : Dr Eston RSMK Waru

Hasil dari USG dan konsultasi menunjukkan adanya kista kecil di rahim istri, tapi dokter mengesampingkan itu dan langsung memulai program dengan memberi penyubur. Konsultasi berlanjut tanpa halangan berarti karena saat itu kantor tempat kerja bekerjasama dgn RSMK Waru sehingga biaya dokter dicover kantor. Vitamin2 suplemen mahal pun diberikan. CarQ, escovit, profertile, dan beberapa vitamin penyubur lainnya.

Beberapa bulan menjalani program belum ada hasil, kami mencoba berganti dokter dirumah sakit yang sama. Kami memilih dr Niken Wening, Sp.OG. Dia tidak langsung memulai program seperti dokter sebelumnya, melainkan menyarankan kami untuk melakukan serangkaian tes. Tes sperma, HSG, dan lain2nya pun kami lakukan. Semua menyatakan baik-baik saja, kecuali kista kecil itu. Tapi sama dengan dokter sebelumnya, dr Niken mengesampingkannya dan melanjutkan program penyuburan dengan pemberian suplemen2 mahal tadi.

Kami terlena, dan sempat vacum konsultasi untuk beberapa saat (6 bulanan). Saat kami tergerak untuk konsultasi lagi, dengan dokter yg sama, ternyata kista pada rahim istri sudah menjadi sekitar 6 cm. Dokter berkata tanpa beban ;”silakan diangkat dulu kistanya, baru program dilanjutkan”.

Pikiran pun gamang kala itu.
Kami tidak mudah percaya pada analisis seorang dokter. Atas saran seorang saudara, kami coba ke RSUD DR Sutomo menemui Prof Heru Spog. Ia minta cek lab untuk menentukan apakah kista tsb dlm kategori jinak atau ganas. Setelah membaca hasil tes lab Ia mengatakan bahwa ada tumor d rahim. Harus diangkat rahimnya lalu dibersihkan semua. Kami pun galau, kala itu.

Gambar : Prof Heru Spog

Karna kami masih belum puas dengan solusinya, Kami pun mencari informasi mengenai kista dan operasinya. Berdasarkan hasil Googling, youtube, dll tentang kista, kami coba memutuskan untuk menemui dokter ahli infertilitas di Rs Darmo yaitu dr Relly Yanuari spog. Ia menyarankan untuk dilakukan laparoskopi, operasi minimum pembedahan, untuk mengangkat kista. Di Rs Darmo Surabaya adalah pertemuan pertama kami dengan dokter Relly Spog. Namun demikian kami masih penasaran dan berusaha mencari jalan lain untuk menangani kista di rahim istri tercinta.

Petualangan dimulai 🙏

Atas saran saudara yg lain, kami coba usaha alternatif menggunakan ramuan obat2 China dan metode totok ke Dr AF Hadi Soepraba di daerah Mayjend Sungkono, Pakis Tirtosari Surabaya. Dokter tak mematok tarif untuk biaya konsultasinya, namun obat2an yg digunakan adalah jenis herbal yg tak murah (1 paket obat untuk 2 – 3 minggu antara 2 – 3 juta), bahan2nya dari China katanya. Hingga beberapa waktu pengobatan kami sambil mengecek ukuran kista lewat USG di bidan dekat rumah. Kista mengecil 1 cm saja. Konsumsi obat herbal tak kunjung mengecilkan si kista.

Gambar : Kartu Nama Dr Hadi

Alternatif tak berhenti disitu, kami juga sempat pijat di daerah surabaya barat. Pijitan yg sakit dan g enak, tanpa hasil nyata.

Waktu terus berlalu…

Kami pun coba ke dokter spog yg telah berhasil menghantarkan salah satu teman untuk hamil setelah lama menikah. Dokter tsb praktek di RSI Jemursari, bernama Dr Dewi Arofah, spog. Ia menyimpulkan, tumbuhnya kista akibat rangsangan hormonal beberapa penyubur yg dikonsumsi istri saya. Ia pun memberikan obat hormonal pula, untuk mengecilkan kista yg ada d rahim sang istri. Konsumsi vitamin2 semacam profertile dicurigai sebagai pemicu tumbuh membesarnya kista pada rahim istri saya.

Gambar : Dr Dewi Arofah Spog

Setelah siklus obat habis, kista tak menunjukkan adanya pengecilan ukuran. Opsi yg dapat kami pilih semakin mengerucut. Operasi mengangkat kista 🙂

Perjalanan memilih lokasi dan metode pengangkatan kista pun kami mulai. Ada metode konvensional dengan pembedahan besar,yang mungkin akan berakhir dg mengangkat rahim (Metode Prof Heru), atau model laparoskopi (Metode Dr Relly) menggunakan tools modern sehingga pembedahan dapat dilakukan dengan minimum invasive.

Seiring berjalannya waktu, saat berkunjung ke mertua d Solo, kami pun menyempatkan diri untuk konsultasi dengan spog d sana. Dua Spog RS d solo menyarankan untuk ditangani dr Relly di surabaya. Ternyata sepak terjang dr Relly dalam dunia pengangkatan kista menggunakan metode laparoskopi sudah terkenal di kalangan dr Spog.

Kami masih penasaran. Analisis dokter adalah sesuatu yg subyektif bergantung pada jam terbang dan keilmuan Dr yg bersangkutan. Menurut kami, operasi adalah last choice. Kalau bisa g harus operasi lah.

Sahabat org tua yg berkecimpung d dunia medis (RS SMS Surabaya) menyarankan untuk coba konsultasi ke Dr Robby Spog di dekat rumahnya, jl Kartini sby. Dan menyarankan untuk mencatat beberapa pertanyaan untuk didiskusikan saat konsultasi, seperti probabilitas untuk terbuahi normal pasca operasi, dan kondisi2 pasca operasi lainnya. Memang saat mau konsultasi dengan dokter, ada baiknya untuk mencatat hal2 apa saja yg akan ditanyakan.

Gambar : Dr Robby Spog

Dr Robby yg ramah, berperan seakan org tua bagi setiap pasien yg konsultasi. Beliau menjelaskan dengan tenang, ramah dan logis, kalau memang kista itu harus diambil dengan operasi. Dampak2 yg terjadi pasca operasi, serta mitigasi2 yg musti dipersiapkan oleh penderita kista endometriosis.

Bapak penulis pernah bilang kalau dokter ibarat teknisi dengan kemampuan khusus ibaratnya tukang las. “Tukang las itu, meski kamu cuma mau nyopot baut, ya harus di las“, kata beliau. Artinya, dokter akan menganalisis dan merekomendasikan tindakan sesuai dengan spesialisasi dan kapabilitas masing2. Kami pun sedikit tenang, dengan adanya dukungan dari org tua yg amat tulus dalam membimbing anaknya, bahkan hingga anak2nya tumbuh dewasa.

Atas saran kawan bapak pula, kami pun pergi ke malang untuk menemui dr spog disana. Kami ceritakan kisah kami. Ia ternyata telah mengenal dr Relly sebelumnya, dan menyarankan untuk ditangani dr Relly saja.

Petualangan pencarian solusi kista pun berakhir,

Pilihan kami tertuju pada laparoskopi by Dr Relly untuk mengangkat kista. Kini tinggal mencari biaya yg “masuk akal” sesuai dengan kaidah Cost Benefit Analysis.

Untuk laparoskopi di Rs Darmo, biaya sekitar 50jt (kamar VIP). Mitra Keluarga kupang 35jt. Dr Sutomo Graha Amerta 25jt (1 kamar 2 pasien). Harga tersebut pada tahun 2016.

Pilihan akhirnya kami tetapkan untuk melakukan operasi laparoskopi di RS Dr Sutomo Graha Amerta, dengan Dr Relly sebagai eksekutornya. Persiapan kami lakukan dengan konsultasi di Klinik Fertilitas Graha Amerta by Dr Relly Y Primariawan.

Ada momen2 singkat, tapi momen2 singkat itu dapat merubah kisah hidup seseorang setelah mengalaminya.

Proses laparoskopi ternyata sangat cepat dan singkat, tidak seperti perjalanan mengambil keputusannya. Untuk proses lengkapnya silahkan browsing dengan keyword “laparoskopi Dr Relly”.

Berikut adalah LINK video proses laparoskopi pada Channel Youtube Dr Relly.

Setelah proses laparoskopi, semua menjadi jelas permasalahan dan solusinya, karena isi rahim dan saluran2 menujunya terlihat. 7 hari pasca laparoskopi, kami konsultasi ke Dr Relly dan ditunjukkan Highlights video proses laparoskopi kista sang istri. Dr Relly menunjukkan pula video rahim yg sehat, dan menjelaskan apa yg sebenarnya terjadi pada rahim sang istri. Ternyata, terdapat perlengketan pada saluran menuju rahim sang istri. “Disarankan untuk memulai proses bayi tabung, daripada keburu terjadi perlengketan lg”, kata dr Relly.

Kami pun memulai prosesnya di RS Dr Sutomo Graha Amerta, dalam penanganan Dr Relly. Bayi tabung merupakan jalan yg banyak ditempuh pasangan yg tak kunjung dikaruniai momongan. Tahapannya terbagi menjadi dua. Tahap pertama adalah menyiapkan Telur untuk siap dibuahi, dan tahap kedua yaitu embrio transfer atau proses menempelkan embrio (sel telur yg telah terbuahi sel sperma) ke rahim sang ibu.

Entah di tempat lain, namun biaya untuk program Bayi Tabung di Graha Amerta Dr Sutomo tidak dapat diestimasikan detail karena secara umum prosesnya terbagi menjadi dua tahap. Prosesnya berbeda2 bergantung sikon individu sang pasien.

Tahap pertama adalah penyiapan kondisi telur sang ibu. Pada tahap pertama, biaya yg dikeluarkan bervariasi tergantung telur masing2 ibu. Prosesnya dilakukan dengan injeksi Puregon dan Menopur belasan kali untuk mengkondisikan sang telur. Sekali suntik sekitar 1,6jt – 3,2jt. Semakin telur si ibu bisa bekerjasama (cepat matang), maka biaya dapat bekerjasama pula.

Setelah telur nampak siap, dilakukanlah Ovum Pick up, mengangkat telur2 yg Qualified untuk kemudian ditaruh di “tabung” dan dipertemukan dengan sel sperma yg telah dipilih. Kala itu, ada 7 sel telur istri yg diambil. Pelaksanaan Ovum Pick Up dengan bius total, g sadar sekitar 30 menitan.

Setelah itu dilakukan pertemuan sel telur yg telah diambil td dengan sel sperma. Dari 7 sel telur yg dipertemukan dgn sperma, yg terbuahi dan mampu berkembang dengan baik ada 5, dan tumbuh menjadi embrio. Sekitar 5 harian pasca Ovum Pick Up, dilakukanlah tahapan kedua yaitu dicantolkannya sel telur yg telah terbuahi (embrio) pada rahim istri dalam proses yg dinamakan Embrio Transfer. Kala itu, embrio yg dimasukkan berjumlah 3. Biaya yg dikeluarkan pada tahap 2 sekitar 23 jutaan (Tahun 2016).

Gambar : Kuitansi Graha Amerta

Proses mendebarkan, dengan harapan dan kepasrahan maksimal, karena menempelnya telur yg telah dibuahi pada rahim, mutlak adalah kuasa Sang Pencipta. Embrio (Sel telur yg telah terbuahi) yg dimasukkan kembali ke rahim biasanya lebih dari 1 untuk jaga2 kalau ada embrio yg g bisa berkembang, atau g mampu menempel dengan baik pada rahim, sehingga kebanyakan anak hasil proses bayi tabung adalah kembar atau lebih dari 1. Dari 3 embrio yg diinjeksikan ke rahim istri, alhamdulillah ada satu yg jadi, atau mampu berkembang dengan baik.

Gambar : USG pasca embrio transfer (Embrio pada tanda bulatan)

Setelah proses Embrio Transfer, untuk meminimalkan goncangan d rahim istri, kami memilih untuk menginap 2 malam d hotel Evora, dekat Graha Amerta.

Sekitar 10 hari pasca Embrio Transfer, kami bersiap untuk “Rapotan”, melihat kadar HCG dlm darah istri, untuk memastikan telah terjadi kehamilan. Alhamdulillah hasilnya positif kala itu. Kami pun feel amazed, dan mencoba menggunakan Test Pack untuk memastikan kabar baik tersebut.

Gambar : Test Pack

Subhanallah.

Konsultasi selama kehamilan pada awalnya kami lakukan di Klinik Fertilitas Graha Amerta. Namun karena waktu konsultasinya pagi dan bentrok dengan jadwal kerja, maka kami konsultasi di RS Darmo by Dr Relly (waktu konsultasi sore hari). Pada trimester awal, konsultasi dilakukan setiap 2 minggu. Di trimester kedua,  Konsultasi dilakukan 1 bulan sekali, dan menjadi 2 minggu sekali pada trimester 3. 

Video : Salah satu proses USG yang sempat penulis rekam

Setelah usia kehamilan menginjak 5 bulan, dokter meminta dilakukan USG 4D untuk mendapat gambar lebih jelas, terkait kenormalan ukuran2 anggota badan, jenis kelamin, dan sebagainya. USG 4D dilakukan di Rs Putri Arif Rahman Hakim Surabaya.

Gambar : USG 4D di Rs Putri Arif Rahman Hakim SBY

Berdasarkan pilihan kami, untuk proses persalinan kami memilih di Rs Putri Surabaya. Salah satu rumah sakit yang Dr Relly dapat melakukan tindakan Operasi Cesar, karena hingga mendekati hari kelahiran, janin dalam kandungan istri masih sungsang (kepala di atas).

Gambar : Ananda Abas

Dan, Alhamdulillah pada 01 Juli 2017 telah lahir, Ahmad Besari Suryo Tranggono, seorang putra pilihan yg telah menyisihkan beberapa kompetitornya untuk dapat berkembang dengan baik di rahim sang istri, yg insyaAllah senantiasa kami didik hingga bisa menjadi kebanggaan d dunia hingga d akhirat kelak.

Ini foto dr Relly dan ananda tercinta ;

Gambar : Dr Relly dan Junior 

Setelah menjalani proses panjang dan lumayan menguras biaya, perasaan, dan tenaga, beberapa pelajaran yang penulis dapatkan adalah sbb;

1. Disarankan untuk tidak selalu menanyakan kapan nikah? Udah hamil blm? Dan pertanyaan2 main stream lainnya. Anda ndak tau apa yg sebetulnya tejadi pada yg diajak ngobrol. Mending ngobrolin hal lain. Be Creative!

Gambar : Meme Tarekat Gambar

2. Jangan berharap banyak pada pengobatan alternatif,

3. Ketika sdh menikah lebih dr 2 thn namun blm juga terdapat tanda2 hamil sementara ‘aktiv’ dan ‘normal’ berproduksi,, lebih baik segera mencari bantuan ahli. Dan usahakan bkn sekedar Spog, tp khusus fertilitas (KFER)

4. Kalau konsultasi ke dokter, siapkan pertanyaan2 yg akan disampaikan. Tulis apa yg ingin ditanyakan, dan catat hal2 baru intisari hasil konsultasi saat itu. Eman2 bayar dokternya klo g ada persiapan dan catatan apa2 saat konsultasi.

5. Bila anda memulai program, jgn ada vacum ditengah2, karena kita tidak tau apa yg terjadi selama masa vacum tersebut. Konsumsi penyubur kandungan, pada beberapa org dapat memicu tumbuhnya kista, bila tidak dimonitor dengan seksama.

6. Kalau mau konsultasi fertilitas, laparoskopi, bayi tabung, dll pilih dokter yg jelas n sudah terbukti. Jgn asal dokter. Pasien berhak memilih dan memutuskan. Dokter adalah partner diskusi yg memberi pertimbangan dan mengeksekusi apa yg disetujui pasien.

7. Terakhir dan terpenting, jgn lupa berdoa. Segala sesuatu yg terjadi adalah kehendakNya. Banyak kejadian, nikmat, maupun bencana d luar nalar yg berpotensi terjadi saat menjalani proses. Pasrah, dan berserahdiri~lah, Tuhan Yme telah mengatur semuanya, menciptakan bumi, langit, dan isinya, termasuk anda. Banyak org yg sulit punya anak, tau2 bisa hamil. Banyak pula org yg berkali2 program bayi tabung tapi gagal terus. Lepasnya daun ditiup angin adalah kehendakNya, apalagi terbuahinya sel telur hingga selamat dlm kelahiran. Semua dlm kuasaNya.

Demikian sedikit kisah yg telah kami lalui, semoga dapat dijadikan pelajaran, karena tidak perlu kita merasakan sendiri kalau jamu itu pahit, tp cukup membaca atau mendengar cerita dari org lain untuk diambil sisi positifnya,

Salam,

Advertisements

3 thoughts on “​Pengalaman ; Kista, Laparoskopi – Bayi Tabung – IVF

  1. MasyaAllah…..perjalanan panjang dan hebat ya…..
    Semoga menjadi anak sholeh,sehat dan pintar
    Semoga kalian juga bisa menjadi ortu yg baik buat abbas😍

  2. Wah selamat untuk kalian. Semoga menjadi anak yg pintar dan berbakti sama orang tua. Amiin.
    Jujur ini memotivasi saya untuk tidak menyerah.
    Saya berencana untuk ke dr. Relly bulan depan. Sebelumnya saya sudah mencoba inseminasi di surabaya namun gagal. Kalau di ijinkan boleh saya minta wa atau bbmnya? Ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan.
    Terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s