Hakikat Yatim

Kata “Anak Yatim” seringkali terlintas dalam kitab suci. Mengapa dituntut untuk memulyakan anak yatim. Mengapa dituntut untuk lebih mengasihi anak yatim. Siapa anak yatim itu.

anak-jalanan

Alkisah, pada jaman dahulu kala. Sempat ada sayembara bahwa akan dianugerahkan suatu “Obat” pada mulut ciptaan Tuhan yaitu pada salah satu makhluk bersayap yang ada di muka bumi ini. Semua burung – burung bergembira dan berharap bahwa merekalah yang terpilih. Lain halnya dengan lebah. Ia bergumam; “ah, siapalah aku ini, udah body ga sexy, suka menyengat, buruk pula bentukku. Ga mungkin lah kalau aku nantinya yang akan mengemban amanah membawa suatu obat di mulutku ini”. Namun ternyata, berkat sifat tawadhu’ nya tersebut, dipilihlah lebah untuk membawa madu di mulutnya, sebagai obat bagi manusia.

Syahdan, dahulu kala, Tuhan berencana mendaratkan kapal nabi nuh as di atas punggung sebuah bukit. Maka berbanggalah semua bukit yang ada di muka bumi ini. Mereka berharap untuk dapat menjadi sandaran kapal nabi nuh as. Semua bukit berharap, kecuali suatu bukit bernama bukit al-juddi. Ia bergumam;”ah, siapalah aku. aku hanyalah bukit kecil diantara jutaan bukit ciptaan Tuhan di dunia ini. berkat sifat tawadhu’ nya tersebut, dipilihlah bukit al-juddi sebagai tempat berlabuhnya nabi nuh, penerus generasi kekhalifahan manusia di muka bumi.

Pada suatu ketika. Tuhan bertanya pada beberapa hamba-hambaNya yang terpilih. Alkisah Tuhan bertanya pada Nabi Musa. Tuhan bertanya; “Siapakah dirimu?” Nabi Musa menjawab;”Akulah ‘kalamullah’, orang yang Kau ajak bicara secara langsung”. Tuhan juga bertanya pada Nabi Isa AS, ; “Siapakah dirimu?” Nabi Isa menjawab;”Akulah ‘Ruhullah’ orang yang kau ciptakan langsung melalui Ruh-Mu”. Tuhan pun bertanya pada Nabi Muhammad SAW dengan pertanyaan yang sama;”Siapakah dirimu?” Nabi Muhammad SAW menjawad:”Aku adalah seorang anak yatim”. Karena sifat tawadhu itulah, maka Nabi Muhammad diangkat derajatnya melebihi nabi-nabi yang lain.

Sebenarnya, “yatim” memiliki pengartian lebih mendalam. Yatim bukan hanya anak yang ditinggal mati oleh bapaknya.

Apa hakikat pe-yatim-an? Dalam Al-Qur’an surah adh-Dhuha ayat 6, berbunyi: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu.”

Ayat di atas menyiratkan makna bahwa karena keyatiman Muhammad Rasulullah saw, maka Allah melindunginya. [Dalam tradisi Arab kuno, kalau seorang anak menjadi yatim, maka keluarga besarnya yang menjadi pelindungnya. Namun jika keluarga besar tersebut tidak ada, maka sang anak yatim hidup tanpa perlindungan].

Maka beliau sudah terbiasa merasa bergantung kepada-NYa, bukan kepada makhluk. Ini artinya, anak-anak yang mengalami proses pe-yatim-an akan menjadi lebih mandiri dan terbiasa bergantung pada kekuatan Allah SWT.
Merekalah secara teoritis yang paling dapat menghayati hakikat di balik kalimah dzikir: Laa haula walaa quwwata illa biL-lahi.

Yatim ; anak yg tak punya orang tua yg dapat dijadikan tempat bergantung.

Yatim ; orang yang hanya berserah diri pada Tuhannya untuk segala sesuatu yang terjadi padanya.

Mari me-yatim-kan diri
Mari mengasihi anak “yatim”

Wallahua’lam.

One thought on “Hakikat Yatim

  1. Pingback: Poliguamy | : : ZABANIYYAH : :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s