kata orang di masa depan; “dulu, ada sebuah negeri bernama Indonesia”

Tidak dibantah, sejumlah pihak berusaha menyeret NKRI menjadi republik pecah-belah. Apakah pihak-pihak itu adalah warga asing atau pribumi, kenyataannya NKRI cenderung akan pecah. Kaum tua yang ikut memperjuangkan tegaknya NKRI dengan darah dan air mata pasti menentang keinginan ini. Namun mereka yang tak pernah merasakan sulitnya masa penjajahan maupun pendudukan asing sepertinya acuh tak acuh dengan perlu tegaknya NKRI atau pecahnya republik ini berkeping-keping.

Peta-Indonesia-dpcgmnipasuruan1.wordpress.com_


Dimulai dari sumpah palapa mahapatih gajah mada yang ingin menyatukan nusantara dibawah kepemimpinan seorang raja, satu-satunya bentuk kekuasaan yang dikenal saat itu. Tentu saja sumpah palapa dicermati dengan semangat berbeda, gajah mada oleh sejumlah negara yang ditaklukkan dianggap sebagai biang penjajah, tidak demikian halnya dengan NKRI yang dikepalai sukarno-hatta yang dihormati sebagai kepala sebuah negara yang merdeka meski ada sejumlah penentang kala itu, toh NKRI berhasil berdiri tegak, dan hingga kini tetap diupayakan agar tetap tegak berdiri.

Saat ini,gejolak sosial-politik di beberapa daerah di Indonesia mulai mengkhawatirkan. Sejak diberlakukan otonomi daerah, semua daerah merasa berhak mengurus daerah masing-masing dan cenderung melupakan bahwa satu daerah punya rangkaian dengan daerah lain yang membentuk NKRI. Bila seorang calon kepala daerah membutuhkan dana besar untuk mencalonkan diri, maka logikanya ia pun akan berusaha mencapai titik break event point saat ia menjabat kelak.

Hutang negara yg semakin membesar semakin sulit untuk dilunasi, perlahan tapi pasti, suatu saat nanti negeri ini pasti mengalami disintegrasi bila kondisi tetap seperti ini. Sebagaimana timor leste telah memisahkan diri.

Hanya kerekatan daerah-daerah yang kuat diharapkan dapat memperkuat posisi NKRI. Namun terjadi arah yang kurang benar dalam mengendalikan daerah, sehingga banyak daerah merasa bahwa daerah adalah milik warga asli daerah tertentu. Semakin lupa bahwa tiap2 daerah merupakan satu kesatuan negara Republik Indonesia. Kondisi ini diperparah dengan produk2 jurnalistik sampah yg semakin menjamur dewasa ini. Netralitas berita semakin langka. Mereka (para jurnalis, red) kebanyakan hanya pengadu semata, sosok serigala berbulu domba.

Pertumbuhan penduduk semakin menggila, permasalahan penduduk akibat jumlah manusia pun semakin nampak. Seiring dengan meningkatnya hutang, menurunnya expor, tingkat konsumtif penduduk, dan permasalahan lainnya, maka bila dalam suatu hadits ada statemen jumlah muslim di akhir zaman nanti banyak tp bagai buih di laut, maka sadarlah, fenomena itu ada di negeri kita indonesia tercinta.

Siapakah penduduk asli Indonesia? Soal siapa yang asli dan siapa pendatang bukanlah masalah sederhana. Kajian linguistik, antropologi budaya dan arkeologi menunjukkan bahwa penduduk yang sekarang berdiam di Indonesia tak sepenuhnya berasal dari Indonesia.Migrasi besar-besaran dari china selatan juga dari taiwan ke arah selatan menghasilkan austronesia yang kemudian tersebar di wilayah Indonesia, Malaysia dan Filipina. Karena itu, para ahli sepakat untuk merekonstruksi bahasa proto austronesia dengan menggunakan data dari bahasa tagalog, bahasa batak dan bahasa jawa. Mengingat migrasi juga berjalan ke arah barat, maka ada kemiripan dengan bahasa yang ada di madagaskar. Etnis dayak di kalimanan punya kemiripan fisik dan budaya dengan penduduk taiwan, sebagaimana terdapat dalam majalah-majalah,lengkap dengan foto-foto penduduk serta keseniannya. Ada kecenderungan kurang sehat di daerah-daerah, kasus2 seperti pengusiran etnis madura dari kalimantan, intimidasi pada agama tertentu di suatu daerah, dan lain sebagainya. Adapun sejak meletusnya bom bali,muncul gerakan ajeg bali yang dirasakan sebagai gerakan anti pendatang, karena sejumlah pelaku bom yang tertangkap adalah orang indonesia di luar bali, sehingga mengesampingkan pelaku-pelaku lain yang masih tersembunyi di balik layar.Batam juga sudah tertular gerakan anti pendatang, sementara wilayah penuh gula itu sudah telanjur diserbu semut dari luar, seiring dengan semakin mudahnya asing memiliki hak akan suatu lahan. Belum lagi daerah lain yang merasa memiliki sumber daya alam yang besar, yang selama ini dianggap telah disedot pemerintah pusat. Hendaknya masyarakat seluruh daerah merasakan ini, jangan sampai mereka meniru jejak mantan saudara mereka yang kini hidup di bumi bernama timor leste, yang ingin merdeka dari penjajahan Indonesia,yang nyatanya saat ini malah terjajah.

Andaikata daerah-daerah ingin membentuk republik sendiri, kerajaan sendiri atau kesultanan sendiri, persoalannya juga tidak sederhana.Ambil misal banten mau membuat kerajaan atau kesultanan sendiri,karena beberapa tahun yang lalu daerah ini pernah bermuhibah ke london dan disambut dengan upacara kerajaan (laporan indonesia circle,jurnal terbitan school of oriental and african studies, university of london).Apakah wilayah ini bisa mandiri? atau harus impor banyak hal dari daerah lain? republik jawa timur? wilayah inipun bukan terdiri dari daerah yang homogen, dendam sejarah orang-orang blambangan terhadap majapahit,sebagaimana pajajaran yang pernah merasa ditipu oleh mahapatih gajah mada, demikian pula bali yang pernah ditaklukkan. apakah wilayah-wilayah lain akan jadi republik sesuai batas pulau? bagaimana mengatur mobilitas tinggi rakyat yang kini bernama penduduk Indonesia dari pulau ke pulau?

Kenyataan ini perlu dipikirkan bersama.Persatuan dan kesatuan yang telah tercapai jangan dengan mudah tercabik-cabik karena ambisi sejumlah manusia yang tak punya visi ke depan.Jangan sampai kita “mati muda” sebagai bangsa dan negara.

Kata orang dimasa depan;

Dulu, ada negeri bernama Indonesia. Berumur pendek dan kalah dengan majapahit yang bisa bertahan hingga hampir 300 tahun, atau dengan sriwijaya yang menjadi pusat study agama di asia tenggara?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s