Perjalananku Memahami Takdir

Ada beberapa sudut pandang pemahaman akan takdir yang terjadi pada manusia. Sudut pandang tersebut bergantung pada kematangan spiritual dan perjalanan kehidupan manusia yang bersangkutan.

Adapun beberapa sudut pandang yang ada adalah;

1. Manusia memiliki andil penuh dalam menentukan nasibnya.

Sudut pandang pertama ini biasa dikenal dengan istilah “qadariyah”. Sudut pandang ini meyakini bahwa manusia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan nasibnya pun ditentukan oleh usaha yang telah dilakukannya.

…Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri… (QS 13:11). Firman Allah SWT QS Ar-Ra’du ayat 11 tersebut mewarnai para “qadariyah” yaitu sebagian orang yang meyakini bahwa manusia memiliki kuasa penuh terkait dengan perjalanan nasibnya. Untuk sukses, manusia musti berusaha, agar selamat manusia musti hati-hati, agar kenyang manusia harus makan, dsb.

2. Berbagai ketentuan Allah sudah tersedia, manusia dapat memilih menuju jalan yang mana untuk dilaluinya.

Sudut pandang kedua berbeda dengan sudut pandang pertama. Pada sudut pandang yang kedua ini, ketentuan-ketentuan Allah sudah tersedia, manusia tinggal menempuh perjalanan kehidupan dan memilih akan menjumpai ketentuan yang mana. sebagai misal, ada seorang (si-A) memilih jurusan kuliah. dia bingung antara jurusan kedokteran atau psikologi. Ketentuan Allah sudah tersedia bagi masing-masing pilihan si-A tersebut. Misalkan, bila ia memilih kedokteran, maka nantinya ia akan jadi dokter mata, atau bila si-A memilih psikologi, nantinya ia akan menjadi seorang psikolog ternama. Ketentuan Allah telah tersedia, manusia-lah yang memilih akan melalui jalan mana, yang nantinya akan tetap mengembalikannya pada Tuhannya.

3. Manusia hanya berupa “wayang” dan takdir yang dialaminya sepenuhnya berasal dari “Sang Dalang” penciptanya.

Sudut pandang ketiga ini biasa dikenal dengan istilah “jabbariyah”. Dunia ini panggung sandiwara. Manusia hanyalah lakon-lakon yang menjalani skenario yang telah dibuatNya. Para ulama kebanyakan menggunakan sudut pandang ini dalam memaknai takdir. Karena semua yang terjadi di dunia ini sudah merupakan skenario Tuhannya, maka mereka menjadi tidak mudah memandang sesuatu dari sudut pandang yang negatif, karena semua yang terjadi adalah kehendak Tuhannya.

Hidup hanya akan melelahkan, bila hanya digunakan untuk mengejar dunia yang bagai fatamorgana. Sebaliknya, hidup akan menjadi penuh makna bila kita gunakan untuk mengejarNya, karena semua sandiwara yang ada di dunia ini semua adalah rencanaNya, rencana Sang Pencipta kehidupan.

Sudut pandang semacam ini biasa dimiliki oleh orang yang memiliki kematangan spiritual yang tinggi, misalnya kisah Nabi Khidir As yang diabadikan dalam QS Al-Kahfi. Saat berjalan bersama Nabi Musa As, beliau (Nabi Khidir) mampu melihat takdir yang akan terjadi pada kapal yang berlayar di laut, tembok yang miring, dan juga anak kecil. Nabi Khidir menenggelamkan kapal yang berlayar karena beliau melihat nantinya akan ada perompak yang akan mencelakai penumpang kapal itu. Nabi Khidir meluruskan tembok yang miring karena di bawah tembok itu ada harta peninggalan bagi anak yatim yang membutuhkan, dan Nabi Khidir membunuh seorang anak, karena beliau mampu melihat takdirNya yang nantinya dijalani oleh anak itu. Nabi Khidir membunuh anak itu karena beliau melihat nantinya anak itu dapat mengajak kedua orang tuanya yang muslim menjadi sesat kembali. Nabi Muhammad SAW pun memiliki sudut pandang seperti ini dalam menyaksikan sandiwara dunia. Beliau berani mengemukakan statement tentang sahabat-sahabatnya yang nantinya masuk surga.

Semua sandiwara yang ada di dunia ini adalah karya Yang Maha Kuasa, karena Dia Maha berkuasa atas segala sesuatu. Jadi, kesimpulannya adalah;

segala ketentuan Allah telah tertulis dalam “hard disk” lauh mahfudz. Manusia, sebagai aktor, tinggal menjalani beberapa perempatan-perempatan skenario kehidupannya. Dalam menjalani takdirnya di setiap perempatan pilihan hidup, adakalanya Allah mempertemukan manusia tersebut dengan “khidir” nya, yang menunjukkan jalan yang lebih bagus untuk dilaluinya dalam setiap perempatan yang akan dilalui. Doa agar kita senantiasa ditunjukkan jalan yg lurus pada tiap ‘perempatan hidup’ selalu kita baca dalam setiap bacaan alfatehah di shalat kita.

“Ada momen2 singkat, tapi momen2 itu bisa memberikan perubahan yg besar pada perjalanan hidup seseorang”

Wujud “Khidir” bisa berupa manusia, hewan, benda, dan lain-lain. Sebagai misal, ada orang yang tidak jadi minum kopi karena kopi-nya dimasuki lalat. Bila orang itu minum kopi, maka ia akan terkena serangan jantung, karena ada lalat masuk ke kopi-nya, ia tak jadi minum kopi, dan tak jadi terkena serangan jantung. “Khidir” orang ini adalah lalat yang masuk dalam cangkir kopinya.

 

Cara Mengubah Takdir

Tentunya pembaca pernah tau ayat ini;

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri…. (Qs Annisa : 79)

Merupakan salah manusia itu sendiri bila ia memilih jalan yg salah pada perempatan yg dilaluinya dlm hidup. Bila ia memilih kebaikan, maka hal tersebut pun telah masuk dalam salah satu jalan pada perempatan jalan hidupnya yg telah dituliskan Allah swt pada hard disk lauh mahfudz-Nya. Inilah salah satu alasan mengapa kaum kafir akan mendapat siksa yg kekal. Mereka tidak memaksimalkan pemikirannya untuk mencari kebenaran dalam setiap ‘perempatan’ jalan kehidupan mereka.

Takdir bisa berubah teman, salah satunya adalah dengan pengiriman “khidir”, hambaNya yg tidak di sangka-sangka sebelumnya. Semoga kita semua mendapat petunjukNya, berjalan pada perempatan hidup yg dilalui oleh orang2 yg diberi nikmat, bukan jalan ‘perempatan’ orang2 yg dimurkai & dibiarkan sesat, sesuai doa kita dalam alfatehah di setiap rakaat shalat kita.

Manusia tetap harus berusaha, agar takdir yang dihadapinya berubah. Adapun beberapa usaha agar kita tidak salah dalam memilih jalan mana yg akan dilalui di setiap perempatan hidup yg akan kita jalani adalah;

Cara Pertama ialah dengan berdo’a.

Hadits dari Imam Turmudzi dan Hakim, diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi SAW Bersabda : “Barangsiapa hatinya terbuka untuk berdo’a, maka pintu-pintu rahmat akan dibukakan untuknya. Tidak ada permohonan yang lebih disenangi oleh Allah daripada permohonan orang yang meminta keselamatan. Sesungguhnya do’a bermanfa’at bagi sesuatu yang sedang terjadi dan yang belum terjadi. Dan tidak ada yang bisa menolak taqdir kecuali do’a, maka berpeganglah wahai hamba Allah pada do’a”. (HR Turmudzi dan Hakim)

Cara Kedua adalah bersedekah.

Rasulullah SAW pernah bersabda : “Silaturrahmi dapat memperpanjang umur dan sedekah dapat merubah taqdir yang mubram” (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Imam Ahmad)

Cara Ketiga adalah bertasbih.

Ada hadits yang diriwayatkan dari Sa’ad Ibnu Abi Waqosh, Rasulullah bersabda :

“Maukah kalian Aku beritahu sesuatu do’a, yang jika kalian memanfa’atkan itu ketika ditimpa kesedihan atau bencana, maka Allah akan menghilangkan kesedihan itu?  Para sahabat menjawab : “Ya, wahai Rasululullah, Rasul bersabda “Yaitu do’a “Dzun-Nun : “LA ILAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNI KUNTU MINADH-DHOLIMIN” (Tidak ada Tuhan selain Engkau, maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk diantara orang-orang yang dholim”). (H.R. Imam Ahmad, At-Turmudzi dan Al-Hakim).

Cara keempat ialah dengan bershalawat

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ubay Ibnu Ka’ab, bahwa ada seorang laki-laki telah mendedikasikan semua pahala sholawatnya untuk Rasulullah SAW, maka Rasul berkata kepada orang tersebut : “Jika begitu lenyaplah kesedihanmu, dan dosamu akan diampuni” (H.R Imam Ahmad At-Tabroni)

Jadi, jangan pernah berhenti berdo’a dan berusaha. Seburuk apa pun kondisi saat ini, semuanya masih bisa berubah. Bagaimana pun pahitnya pengalaman kita dimasa lalu, masih bisa berubah. Optimis selalu Anda bisa mengubah takdir Anda menjadi lebih baik. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Isi tulisan ini sangat subjektif bergantung pada penulis, sementara kebenaran sejati hanya ada pada Allah Tuhan Semesta Alam. Wahai Tuhan Yang Maha Memberikan Petunjuk, tunjukkanlah selalu jalan – jalan lurusMu pada kami, agar kami dapat menjadi hamba2Mu yang tidak dilalaikan oleh segala sesuatu yang ada di dunia fana ini,,,

آمِيــــــنْ يا رَبّ العلَمِيْن

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s